SMP Negeri 1 Ajibarang

Jl. Raya No. 2 Ajibarang

Unggul dalam Mutu Santun dalam Perilaku

Cerpen Tema Sahabat

Selasa, 05 Juni 2018 ~ Oleh admin ~ Dilihat 108 Kali

Pertengkaran Dua Hari

Karya : Resa Aliyah Manar (VIIIG)

 

Pagi itu di Pondok Pesantren Al-Huda, Bandung, suasana masih sepi. Namun tepat pukul tiga, aktivitas para santri sudah dimulai, ada yang berwudhu untuk solat tahajud, bersiap ke masjid untuk berdzikir, menyiapkan bahan makanan untuk sarapan para santri, dan lain sebagainya. Termasuk Aisyah dan Fatimah yang sedari tadi lelap tertidur tiba-tiba terbangun ketika mendengar suara mengaji dari Masjid yang tidak jauh dari asrama putri.

“Ais… bangun dong. Udah mau subuh nih.” Fatimah menggoyangkan badan Aisyah yang masih lelap tertidur.

“Iya, iya.” Aisyah dan Fatimah memang sudah bersahabat lama semenjak mereka masuk pondok pesantren, mereka juga satu kamar. Dalam keadaan apapun mereka selalu bersama-sama.

Setelah selesai mengaji dan shalat subuh, mereka segera mandi. Kalau tidak cepat-cepat, pasti kamar mandi sudah penuh dengan para santri. Selepas mandi, mereka mencuci baju di sungai seperti yang para santri lain lakukan. Kalau menggunakan jasa laundry, mereka harus merogoh saku dalam-dalam. Setibanya disungai, mereka berbincang dengan asyik, biasanya mereka sering curhat-curhat begitulah.

“Fatimah, kamu kenal Yusuf? Anak baru di pesantren kita? Yang jago adzan itu, loh” tanya Aisyah mengawali perbincangan.

“Tahu. Udah hampir satu bulan dia ada dipondok, jadi bukan anak baru lagi.”

“Pokoknya itu, deh. Dilihat-lihat, Yusuf itu lumayan juga, yah.” Kata Aisyah dengan mimik malu-malu.

“Astaghfirullah, Ais. Istighfar, gadis cantik nggak boleh jelalatan.” Fatimah menasehati dengan mata melotot, heran kenapa Aisyah bisa berkata begitu.

“Ini bukan jelalatan, Fatimah. Ini kenyataan. Kayaknya Ais suka, deh sama Yusuf.” Aisyah berkata sambil senyum-senyum sendiri.

“Ih. Kamu, yah. Hati-hati dalam memilih laki-laki, kita tuh nggak boleh asal suka sama seseorang. Harus tahu dulu asal-usulnya.”

“Cuma sekedar suka aja, Fatimah. Lagian emangnya salah, suka sama lawan jenis? Kan namanya juga remaja pasti ada juga kasmarannya.”

“Kamu, tuh ya. Kalo udah kasmaran gini, suka ngeles. Padahal, kamu tahu nggak Yusuf itu sau….”

“Astaghfirullah… Ais lupa. Ais harus ngumpulin tugas ke Ustadzah Fatin, udah seminggu belum dikumpulin. Kita sambung ceritanya kapan-kapan, yah. Assalamu`alaikum.”

“Wa`alaikum salam. Ais!” buru-buru Aisyah meninggalkan Fatimah yang hendak bercerita kalau Yusuf adalah saudara sepupunya yang baru pindah dari Solo. Mana ember pakaiannya ditinggal pergi lagi, kalau sudah begini sudah jadi tugas Fatimah kesesama muslim untuk membantu mencucikannya. Dasar Ais.

Selepas itu, Fatimah pergi ke toko didepan ponpes untuk membeli alat tulis baru karena yang lama sudah hampir rusak. Tiba didepan gerbang, Fatimah bertemu dengan kakak sepupunya yang bernama Arini. Sepertinya Arini hendak memberikan titipan kepada Yusuf, berarti kebetulan sekali Fatimah ada disana.

“Assalamu`alaikum.” Ucap Fatimah memberi salam.

“Wa`alaikum salam. Ya ampun Fatimah! Apa kabar?” Arini beranjak untuk memeluk saudarinya.

“Kabar baik. Kak, lagi mau jenguk Yusuf, yah?”

“Iya nih. Sekalian nganterin beberapa pakaian buat Yusuf. Tapi kayaknya harus buru-buru deh. soalnya aku lagi banyak urusan.”

“Oh kalau gitu biar Fatimah aja yang nganterin pakaiannya, nggak apa-apa kok.”

“Beneran, nih nggak apa-apa?”

“Beneran, yaudah sini bungkusannya. Fatimah masuk yah. Assalamu`alaikum.” Fatimah pun bergegas menemui Yusuf ke perpustakaan ponpes.

Sementara itu, secara kebetulan Aisyah juga berada disana. Pasti tahu lah Aisyah yang sedang kasmaran seperti apa. Sudah seperti mata- mata yang membuntuti musuhnya dan nggak boleh lepas pandangan barang sedetikpun.

“Yusuf!!” Fatimah berseru pada Yusuf yang tengah memilah-milah buku. Dan mata Aisyah tentu memperhatikan mereka. Aisyah melihat bagaimana Fatimah memberikan sebuah bungkusan dan Yusuf pun menerimanya dengan senang hati. Keduanya juga terlihat sedikit mengobrol layaknya Aisyah mengobrol dengan Fatimah. Aisyah memalingkan pandangannya seolah menolak akan pemandangan yang tidak mengenakkan hati itu. Sudah jelas, semuanya sudah jelas! Fatimah benar-benar tidak menghargai perasaan sahabatnya sendiri yang jelas sudah lama menyukai Yusuf. Begitu piker Aisyah. Aisyah tak kuat untuk berlama-lama menyaksikan keduanya, segera Aisyah berlari menuju asrama sambil memasang muka cemberut dan membanting pintu keras-keras.

***

“Harusnya kamu bilang ke Ais dari awal, Fatimah!” suara Aisyah menggelegar. Jelas dari bahasa yang digunakan, yaitu menggunakan kata “kamu” menandakan Aisyah yang marah.

“Bilang apa?”

“Bilang kalo kamu suka juga sama Yusuf! Harusnya kamu nggak usah sembunyi atau pura-pura didepan Ais.” Suara itu bergemaa dihati Fatimah. Dari mana Aisyah berkesimpulan begitu?

“Hah... maksudnya apa Ais?” Fatimah masih bertanya kebingungan.

“Tadi, tadi jelas-jelas kamu berduaan dengan Yusuf di perpustakaan. Kamu tahu sendiri kalau Ais itu sudah lama suka sama Yusuf jadi hargai perasaan Ais. Dan kamu tahu, katanya gadis cantik itu nggak boleh jelalatan tapi kenyataanya kamu nggak membatasi pandangan kamu dengan Yusuf.”

“Bukan begitu Ais. Fatimah bisa jelasin Aisyah.” belum juga Fatimah memulai penjelasannya, Aisyah malah pamit pergi menjauh dari Fatimah.

“Ais nggak punya waktu untuk itu. Assalamu`alaikum.”

“Wa`alaikum salam. Ais!! Fatimah belum selesai bicara!” Fatimah terus memanggil Aisyah yang terus berlari kencang entah kemana.

Semenjak kejadian itu, Aisyah dan Fatimah tak lagi rukun seperti biasa. Hari-hari mereka lakukan sendiri-sendiri. Pergi kemasjid, mengaji, mencuci baju, dan tidur dalam satu kamarpun mereka hanya saling diam. Karena 1 kamar diisi oleh beberapa santri, santri lain yang melihat Aisyah dan Fatimah saling diam pun heran dan bertanya-tanya. Pernah suatu kali Fatimah mencoba untuk berbicara baik-baik pada Aisyah dan meminta maaf, tetapi usahanya ditolak mentah-mentah oleh Aisyah.

***                                                                                                

Sudah dua hari berlalu, namun Aisyah masih belum berbaikan pada Fatimah, dan pagi ini Fatimah berencana untuk menemui Yusuf untuk menjelaskan perkara yang menimpanya termasuk tentang Aisyah yang sudah lama menyukainya, siapa tahu Yusuf bisa membantu. Maka Fatimah pun pergi ditemani dengan Mae.

“Assalamu`alaikum, Yusuf.” Ucap Fatimah.

“Wa`alaikumsalam.” Fatimah menjelaskan apa yang seharusnya dijelaskan. Memang ini bukan urusan Yusuf, tetapi ini urusan antara Aisyah dan Fatimah, dan Yusuf tidak harus tahu tapi apa salahnya memberi tahu. Ini rencana yang agak gila menurut Fatimah. Dan belum saja Fatimah menjelaskan setengah kejadian, Mae malah berteriak panik.

“Teh Fatimah! Ada Teteh Aisyah disana.” Teriak Mae yang sedari tadi menjaga dengan ketat agar santri lain tidak melihat pembicaraan Fatimah termasuk Aisyah. Betul kan apa yang aku duga tentang mereka berdua, jadi sudah jelas Fatimah menyukai Yusuf. Sesungguhnya mereka berdua hampir mendekati zina.  Begitu pikir Aisyah.

“Aisyah?” Fatimah berbalik badan dan melihat Aisyah yang sudah menyeleweng pergi, tanpa basa-basi Fatimah segera mengejar Aisyah yang terlihat lari menuju asrama.

“Aisyah tunggu!” Fatimah berteriak. “Aisyah tolong kasih Fatimah waktu sedikit aja untuk bisa jelasin semuanya. Apa yang Aisyah pikirkan itu salah faham. Fatimah nggak mau persahabatan kita hancur hanya karena kesalahpahaman.”

Aisyah pun terlihat berhenti didepan dan mengalah untuk mendengarkan penjelasan Fatimah.

“Jelasin apa yang seharusnya Ais tahu, dan jangan menambahkannya dengan kebohongan karena Alloh tidak suka dengan orang yang munafik.” Aisyah berhenti namun mata Aisyah mengisyaratkan kemarahan. Tanpa ba-bi-bu Fatimah langsung menjelaskan ke inti permasalahan.

“Makasih Aisyah udah kasih Fatimah kesempatan buat jelasin. Jadi begini, Fatimah itu nggak ada hubungan apa-apa dengan Yusuf. Fatimah itu cuma saudara sepupunya Yusuf. Dan kemarin-kemarin waktu Ais lihat Fatimah di perpustakaan, Fatimah itu lagi nganterin baju yang dititipin kakaknya Yusuf, jadi Fatimah nggak lagi bermaksud mau melukai hati Ais. Maafin Fatimah yah Ais. Fatimah pengin persahabatan kita kayak dulu lagi.” Aisyah terperanjat mendengar penjelasan Fatimah.

“Jadi, Fatimah saudaraan sama Yusuf?” Aisyah bertanya untuk memperjelas.

“Iya Ais.” Fatimah mengangguk meyakinkan.

“Astaghfirullah. Ya Alloh maafin Ais yah Fatimah. Ais jadi malu sama diri sendiri. Mulai sekarang Aisyah janji nggak bakalan nuduh orang sembarangan.” Aisyah dan Fatimah saling berpelukan tanda berdamai, dan pertengkaran yang terjadi selama dua hari itu pun berakhir. Dan keduanya jadi semakin tahu untuk saling menghargai perasaan satu sama lain.

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT
...

Ngatminah, S.Pd

Bismillahirohmannirrohim Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh Alhamdulillahi robbil alamin kami panjatkan kehadlirat Allah SWT, bahwasannya dengan rahmat dan karunia-Nya lah akhirnya Website…

Selengkapnya

KATEGORI

TAUTAN